Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Khabbab bin Al-Arat r.a. berkata: ‘Kami pernah mengeluh kepada Nabi Muhammad. Pada saat itu beliau sedang berselimut di bawah naungan Kabah. Kami mengeluh tentan gperlakuan dan siksaan keras dari kaum musyrikin kepada kami. Kami berkata kepada beliau, “Tidakkan sebaiknya Engkau mendo’akan kebinasaan untuk mereka dan keselamatan bagi kami, ya Rasulullah?’
Mendengar hal itu, Nabi Muhammad segera duduk dengan wajah yang memerah. Lalu beliau bersabda, “Pada zaman dahulu, orang beriman sebelum kalian jauh lebih menderita. Ada orang yang dimasukkan ke dalam lubang tanah dan kepalanya digergaji hingga tubuhnya terbelah dua. Akan tetapi hal itu tidak mengubah keimanannya. Ada pula orang yang dikukur dengan kukur besi sehingga dagingnya terlepas dari tulangnya. Namun, hal itu tidak juga mengubah keimanannya. Demi Allah! Agama ini akan mendapatkan kemenangannya hingga kelak ada seseorang yang mengendarai kendaraannya dari San’a ke Hadramaut tanpa rasa takut sedikitpun, selain kepada Allah. Ia juga tidak takut gangguan serigala atas domba dombanya. Sungguh kalian sangat terburu buru (tidak bersabar)!”

                 Dalam kitab Dalailun Nubuwwah, Al Baihaqi meriwayatkan dari Anisah binti Zaid bin Arqam, dari ayahnya, berkata: “Sesungguhnya Nabi Muhammad pernah mengunjungi ayahku, Zaid yang sedang sakit. Beliau berkata, ‘Semoga sakitmu tidak membahayakan dirimu, namun bagaimana jika engkau diberi umur panjang dan buta?’
Ayahku menjawab, ‘Aku akan bersabar dan berharap pahala dari Allah’
Nabi Muhammad berkata, ‘Kalau demikian, engkau akan masuk surga tanpa dihisab’.
Setelah Nabi Muhammad wafat, ayahku Zaid menjadi buta matanya, tetapi Allah kemudian menyembuhkannya. Setelah itu barulah ia wafat”