Senin, 19 September 2011 00:20 WIB

Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas
Ibu Aisyah sibuk mempersiapkan pesta pernikahan putri bungsunya. Rumah sederhana yang dibangun sedikit demi sedikit dari menyisihkan sebagian gajinya sebagai pegawai negeri sudah semakin semarak. Dinding rumah bagian dalam dan luar sudah dicat baru. Khusus kamar pengantin sudah direhab sedemikian rupa. Tempat tidur, lemari, dan sebuah meja hias sudah siap. Sepekan sebelum hari pernikahan, undangan sudah habis disebar. Untuk ipar besan dan karib kerabat dekat diundang langsung dengan mengirim utusan. Persiapan dapur pun sudah lengkap.

Calon mantunya seorang sarjana berusia 32 tahun. Dia tinggal dan bekerja di ibu kota. Kabarnya, keadaan ekonominya sudah cukup mapan untuk membangun rumah tangga. Sementara anak gadisnya berusia 24 tahun dan baru saja meraih sarjana keguruan dari perguruan tinggi di ibu kota provinsi tempat dia berdomisili. Mereka dijodohkan oleh kedua orang tua, bukan melalui pacaran.

Dua hari sebelum hari pernikahan, calon mantunya belum juga pulang dari Jakarta. Entah mengapa Ibu Aisyah khawatir. Kadang-kadang muncul pikiran buruk, bagaimana kalau sampai hari H calon mantunya tidak juga muncul. Cepat-cepat pikiran buruk itu dibuangnya. Setiap habis shalat fardu, Ibu Aisyah tidak lupa berdoa agar apa yang dikhawatirkan tidak terjadi.

Sore sehari sebelum hari H, calon mantunya belum juga pulang. Barangkali pesawatnya delay. Semalaman Ibu Aisyah tidak bisa tidur. Pagi-pagi sekali dia telepon rumah calon besannya, ternyata belum juga pulang. Waktu itu masih ada harapan, semoga calon mantunya pulang dengan pesawat paling pagi dari Jakarta. Namun, harapannya sia-sia, bahkan sampai malam pun calon mantunya belum muncul. Padahal, pernikahan seharusnya sudah dilaksanakan bakda Zhuhur.

Betapa malu, sedih, dan kecewanya Ibu Aisyah. Apalagi putrinya, sungguh ia sangat terpukul. Sebagai guru agama di sebuah sekolah dasar negeri, Ibu Aisyah mencoba menabahkan hatinya dan berbaik sangka kepada Allah SWT. “… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2: 216).

Ibu Aisyah berusaha menenangkan putrinya, berharap ada hikmah di balik peristiwa tersebut. Beberapa hari kemudian, Ibu Aisyah tahu bahwa calon mantunya rupanya sudah berpacaran beberapa tahun dengan gadis pilihannya di Jakarta, tetapi ibunya tidak merestuinya. Tidak mau mengecewakan ibunya, dia menerima calon yang dicarikan ibunya. Tetapi, rupanya dia merasa bersalah dengan pacarnya. Semakin dekat dengan hari kepulangannya, dia semakin merasa bersalah dan akhirnya membatalkan pernikahannya di kampung.

Tak sampai sebulan, Ibu Aisyah dapat berita bahwa calon mantunya mati bunuh diri. Rupanya dia dikejar-kejar oleh rasa bersalah kepada ibu bapaknya, calon istri dan calon kedua mertuanya. Akhirnya, setan mengalahkannya.

Di satu sisi, Ibu Aisyah prihatin, tetapi di sisi lain diam-diam dia menyadari inilah rahasia mengapa Allah tidak merestui perjodohan putrinya dengan pemuda yang lemah iman dan singkat pikiran seperti itu. Inilah pelajaran dari kasus Ibu Aisyah. Berbaik sangkalah kepada Allah SWT.

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Koran Republika edisi senin,19 September 2011