Suatu ketika, Rabiah al-Adawiyah makan bersama dengan keluarganya.Sebelum menyantap hidangan makanan yang tersedia, Rabi’ah memandangayahnya seraya berkata, “Ayah, yang haram selamanya tak akan menjadihalal. Apalagi karena ayah merasa berkewajiban memberi nafkah kepadakami.” Ayah dan ibunya terperanjat mendengar kata-kata Rabi’ah. Makananyang sudah di mulut akhirnya tak jadi dimakan. Ia pandang Rabi’ahdengan pancaran sinar mata yang lembut, penuh kasih. Sambil tersenyum,si ayah lalu berkata, “Rabi’ah, bagaimana pendapatmu, jika tidak adalagi yang bisa kita peroleh kecuali barang yang haram?” Rabi’ahmenjawab: “Biar saja kita menahan lapar di dunia, ini lebih baikdaripada kita menahannya kelak di akhirat dalam api neraka.” Ayahnyatentu saja sangat heran mendengar jawaban Rabi’ah, karena jawabanseperti itu hanya didengarnya di majelis-majelis yang dihadiri olehpara sufi atau orang-orang saleh. Tidak terpikir oleh ayahnya, bahwaRabi’ah yang masih muda itu telah memperlihatkan kematangan pikiran danmemiliki akhlak yang tinggi (Abdul Mu’in Qandil).

               Penggalan kisah di atas sebenarnya hanya sebagian saja darikemuliaan akhlak Rabi’ah al-Adawiyah, seorang sufi wanita yang nama danajaran-ajarannya telah memberi inspirasi bagi para pecinta Ilahi.Rabi’ah adalah seorang sufi legendaries. Sejarah hidupnya banyakdiungkap oleh berbagai kalangan, baik di dunia sufi maupun akademisi.Rabi’ah adalah sufi pertama yang memperkenalkan ajaran Mahabbah (Cinta)Ilahi, sebuah jenjang (maqam) atau tingkatan yang dilalui oleh seorangsalik (penempuh jalan Ilahi). Selain Rabi’ah al-Adawiyah, sufi lainyang memperkenalkan ajaran mahabbah adalah Maulana Jalaluddin Rumi,sufi penyair yang lahir di Persia tahun 604 H/1207 M dan wafat tahun672 H/1273 M. Jalaluddin Rumi banyak mengenalkan konsep Mahabbahmelalui syai’ir-sya’irnya, terutama dalam Matsnawi dan Diwan-i Syam-ITabriz.

              Sepanjang sejarahnya, konsep Cinta Ilahi (Mahabbatullah) yangdiperkenalkan Rabi’ah ini telah banyak dibahas oleh berbagai kalangan.Sebab, konsep dan ajaran Cinta Rabi’ah memiliki makna dan hakikat yangterdalam dari sekadar Cinta itu sendiri. Bahkan, menurut kaum sufi,Mahabbatullah tak lain adalah sebuah maqam (stasiun, atau jenjang yangharus dilalui oleh para penempuh jalan Ilahi untuk mencapai ridla Allahdalam beribadah) bahkan puncak dari semua maqam. Hujjatul Islam Imamal-Ghazali misalnya mengatakan, “Setelah Mahabbatullah, tidak ada lagimaqam, kecuali hanya merupakan buah dari padanya serta mengikutidarinya, seperti rindu (syauq), intim (uns), dan kepuasan hati(ridla)”.

           Rabi’ah telah mencapai puncak dari maqam itu, yakniMahabbahtullah. Untuk menjelaskan bagaimana Cinta Rabi’ah kepada Allah,tampaknya agak sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata. Dengan katalain, Cinta Ilahi bukanlah hal yang dapat dielaborasi secara pasti,baik melalui kata-kata maupun simbol-simbol. Para sufi sendiriberbeda-beda pendapat untuk mendefinisikan Cinta Ilahi ini. Sebab,pendefinisian Cinta Ilahi lebih didasarkan kepada perbedaan pengalamanspiritual yang dialami oleh para sufi dalam menempuh perjalananruhaninya kepada Sang Khalik. Cinta Rabi’ah adalah Cinta spiritual(Cinta qudus), bukan Cinta al-hubb al-hawa (cinta nafsu) atau Cintayang lain. Ibnu Qayyim al-Jauziyah (691-751 H) membagi Cinta menjadiempat bagian.

          Pertama, mencintai Allah. Dengan mencintai Allah seseorangbelum tentu selamat dari azab Allah, atau mendapatkan pahala-Nya,karena orang-orang musyrik, penyembah salib, Yahudi, dan lain-lain jugamencintai Allah.Kedua, mencintai apa-apa yang dicintai Allah. Cintainilah yang dapat menggolongkan orang yang telah masuk Islam danmengeluarkannya dari kekafiran. Manusia yang paling Cintai adalah yangpaling kuat dengan cinta ini.Ketiga, Cinta untuk Allah dan kepada Allah. Cinta ini termasuk perkembangan dari mencintai apa-apa yang dicintai Allah.Keempat,Cinta bersama Allah. Cinta jenis ini syirik. Setiap orang mencintaisesuatu bersama           Allah dan bukan untuk Allah, maka sesungguhnya diatelah menjadikan sesuatu selain Allah. Inilah cinta orang-orangmusyrik.

            Pokok ibadah, menurut Ibnu Qayyim, adalah Cinta kepada Allah,bahkan mengkhususkan hanya Cinta kepada Allah semata. Jadi, hendaklahsemua Cinta itu hanya kepada Allah, tidak mencintai yang lain bersamaanmencintai-Nya. Ia mencintai sesuatu itu hanyalah karena Allah danberada di jalan Allah.

            Cinta sejati adalah bilamana seluruh dirimu akan kau serahkanuntukmu Kekasih (Allah), hingga tidak tersisa sama sekali untukmu(lantaran seluruhnya sudah engkau berikan kepada Allah) dan hendaklahengkau cemburu (ghirah), bila ada orang yang mencintai Kekasihmumelebihi Cintamu kepada-Nya. Sebuah sya’ir mengatakan:

            Aku cemburu kepada-Nya,Karena aku Cinta kepada-Nya,Setelah itu aku teringat akan kadar Cintaku,Akhirnya aku dapat mengendalikan cemburuku

         Oleh karena itu, setiap Cinta yang bukan karena Allah adalahbathil. Dan setiap amalan yang tidak dimaksudkan karena Allah adalahbathil pula. Maka dunia itu terkutuk dan apa yang ada di dalamnya jugaterkutuk, kecuali untuk Allah dan Rasul-Nya

         Rabi’ah adalah anak keempat dari empat saudara. Semuanyaperempuan. Ayahnya menamakan Rabi’ah, yang artinya “empat”, tak lainkarena ia merupakan anak keempat dari keempat saudaranya itu. Pernahsuatu ketika ayahnya berdoa agar ia dikaruniai seorang anak laki-laki.Keinginan untuk memperoleh anak laki-laki ini disebabkan karenakeluarga Rabi’ah bukanlah termasuk keluarga yang kaya raya, tapisebaliknya hidup serba kekurangan dan penuh penderitaan. Setiap hariayahnya kerap memeras keringat untuk menghidupi keluarganya, sementaraanak-anaknya saat itu masih terbilang kecil-kecil. Apalagi dengankehadiran Rabi’ah, beban penderitaan ayahnya pun dirasakan semakinbertambah berat, sehingga bila kelak dikaruniai anak laki-laki,diharapkan beban penderitaan itu akan berkurang karena anak laki-lakibisa melindungi seluruh keluarganya. Atau paling tidak bisa membantuayahnya untuk mencari penghidupan.

           Sekalipun keluarganya berada dalam kehidupan yang serbakekurangan, namun ayah Rabi’ah selalu hidup zuhud dan penuh kesalehan.Begitu pun Rabi’ah, yang meskipun sejak kecil hingga dewasanya hidupserba kekurangan, namun ia sama sekali tidak menciutkan hatinya untukterus beribadah kepada Allah. Sebaliknya, kepapaan keluarganya iajadikan sebagai kunci untuk memasuki dunia sufi, yang kemudianmelegendakan namanya sebagai salah seorang martir sufi wanita di antaraderetan sejarah para sufi.

            Rabi’ah memang tidak mewarisi karya-karya sufistik, termasuksya’ir-sya’ir Cinta Ilahinya yang kerap ia senandungkan. Namun begitu,Sya’ir-sya’ir sufistiknya justru banyak dikutip oleh para penulisbiografi Rabi’ah, antara lain J. Shibt Ibnul Jauzi (w. 1257 M) dengankaryanya Mir’at az-Zaman (Cermin Abad Ini), Ibnu Khallikan (w. 1282 M)dengan karyanya Wafayatul A’yan (Obituari Para Orang Besar), Yafi’Iasy-Syafi’i (w. 1367 M) dengan karyanya Raudl ar-Riyahin fi Hikayatash-Shalihin (Kebun Semerbak dalam Kehidupan Para Orang Saleh), danFariduddin Aththar (w. 1230 M) dengan karyanya Tadzkirat al-Auliya'(Memoar Para Wali).

           Dari sekian banyak penulis biografi Rabi’ah, Tadzkiratal-Awliya’ karya Fariduddin Aththar tampaknya dianggap sebagai bukubiografi yang paling mendekati kehidupan Rabi’ah, terutama ketikaawal-awal Rabi’ah akan lahir di tengah keluarga yang sangat miskin itu(tapi ada yang menyebutkan bahwa keluarga Rabi’ah sebenarnya termasukketurunan bangsawan). Riwayat Aththar, yang dikutip Margaret Smithdalam bukunya Rabi’a the Mystic & Her Fellow-Saints in Islam(sebuah disertasi, terbitan Cambridge University Press, London, 1928),antara lain banyak mengungkap sisi-sisi kehidupan Rabi’ah sejak kecilhingga dewa sanya.

             Diceritakan, sewaktu bayi Rabi’ah lahir malam hari, di rumahnyasama sekali tidak ada minyak sebagai bahan untuk penerangan, termasukkain pembungkus untuk bayi Rabi’ah. Karena tak ada alat penerangan,ibunya lalu meminta sang suami, Ismail, untuk mencari minyak di rumahtetangga. Namun, karena suaminya terlanjur berjanji untuk tidak memintabantuan pada sesama manusia (kecuali pada Tuhan), Ismail pun terpaksapulang dengan tangan hampa. Saat Ismail tertidur untuk menunggui putrikeempatnya yang baru lahir tersebut, ia kemudian bermimpi didatangioleh Nabi Muhammad Saw dan bersabda: “Janganlah bersedih hati, sebabanak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung,yang pengaruhnya akan dianut oleh 7.000 umatku.” Nabi kemudian bersabdalagi: “Besok kirimkan surat kepada Isa Zadzan, Amir kota Basrah,ingatkanlah kepadanya bahwa ia biasanya bershalawat seratus kaliuntukku dan pada malam Jum’at sebanyak empat ratus kali, tetapi malamJum’at ini ia melupakanku, dan sebagai hukumannya ia harus membayardenda kepadamu sebanyak empat ratus dinar.”

             Ayah Rabi’ah kemudian terbangun dan menangis. Tak lama, ia punmenulis surat dan mengirimkannya kepada Amir kota Basrah itu yangdititipkan kepada pembawa surat pemimpin kota itu. Ketika Amir selesaimembaca surat itu, ia pun berkata: “Berikan dua ribu dinar ini kepadaorang miskin itu sebagai tanda terima kasihku, sebab Nabi telahmengingatkanku untuk memberi empat ratus dinar kepada orang tua itu dankatakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia menghadapku supaya akudapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidaklah tepat bahwa orangseperti itu harus datang kepadaku, akulah yang akan datang kepadanyadan mengusap penderitaannya dengan janggutku.”

             Aththar juga menceritakan mengenai nasib malang yang menimpakeluarga Rabi’ah. Saat Rabi’ah menginjak dewasa, ayah dan ibunyakemudian meninggal dunia. Jadilah kini ia sebagai anak yatim piatu.Penderitaan Rabi’ah terus bertambah, terutama setelah kota Basrahdilanda kelaparan hebat. Rabi’ah dan suadara-saudaranya terpaksa harusberpencar, sehingga ia harus menanggung beban penderitaan itusendirian.

                Suatu hari, ketika sedang berejalan-jalan di kota Basrah, iaberjumpa dengan seorang laki-laki yang memiliki niat buruk. Laki-lakiitu lalu menarik Rabi’ah dan menjualnya sebagai seorang budak sehargaenam dirham kepada seorang laki-laki. Dalam statusnya sebagai budak,Rabi’ah benar-benar diperlakukan kurang manusiawi. Siang malam tenagaRabi’ah diperas tanpa mengenal istirahat. Suatu ketika, ada seoranglaki-laki asing yang datang dan melihat Rabi’ah tanpa mengenakan cadar.Ketika laki-laki itu mendekatinya, Rabi’ah lalu meronta dan kemudianjatuh terpeleset. Mukanya tersungkur di pasir panas dan berkata: “YaAllah, aku adalah seorang musafir tanpa ayah dan ibu, seorang yatimpiatu dan seorang budak. Aku telah terjatuh dan terluka, meskipundemikian aku tidak bersedih hati oleh kejadian ini, hanya aku inginsekali ridla-Mu. Aku ingin sekali mengetahui apakah Engkau Ridlaterhadapku atau tidak.” Setelah itu, ia mendengar suara yangmengatakan, “Janganlah bersedih, sebab pada saat Hari Perhitungan nantiderajatmu akan sama dengan orang-orang yang terdekat dengan Allah didalam surga.”

                   Setelah itu, Rabi’ah kembali pulang pada tuannya dan tetapmenjalankan ibadah puasa sambil melakukan pekerjaannya sehari-hari.Konon, dalam menjalankan ibadah itu, ia sanggup berdiri di atas kakinyahingga siang hari.

                Pada suatu malam, tuannya sempat terbangun dari tidurnya dandari jendela kamarnya ia melihat Rabi’ah sedang sujud beribadah. Dalamshalatnya Rabi’ah berdoa, “Ya Allah, ya Tuhanku, Engkau-lah Yang MahaMengetahui keinginan dalam hatiku untuk selalu menurutiperintah-perintah-Mu. Jika persoalannya hanyalah terletak padaku, makaaku tidak akan henti-hentinya barang satu jam pun untuk beribadahkepada-Mu, ya Allah. Karena Engkau-lah yang telah menciptakanku.”Tatkala Rabi’ah masih khusyuk beribadah, tuannya tampak melihat adasebuah lentera yang tergantung di atas kepala Rabi’ah tanpa ada sehelaitali pun yang mengikatnya. Lentera yang menyinari seluruh rumah itumerupakan cahaya “sakinah” (diambil dari bahasa Hebrew “Shekina”,artinya cahaya Rahmat Tuhan) dari seorang Muslimah suci.

               Melihat peristiwa aneh yang terjadi pada budaknya itu, majikanRabi’ah tentu saja merasa ketakutan. Ia kemudian bangkit dan kembali ketempat tidurnya semula. Sejenak ia tercenung hingga fajar menyingsing.Tak lama setelah itu ia memanggil Rabi’ah dan bicara kepadanya denganbaik-baik seraya membebaskan Rabi’ah sebagai budak. Rabi’ah pun pamitanpergi dan meneruskan pengembaraannya di padang pasir yang tandus.

              Dalam pengembaraannya Rabi’ah berkeinginan sekali untuk pergike Mekkah menunaikan ibadah haji. Akhirnya, ia berangkat juga denganditemani seekor keledai sebagai pengangkut barang-barangnya. Sayangnya,belum lagi perjalanan ke Mekkah sampai, keledai itu tiba-tiba mati ditengah jalan. Ia kemudian berjumpa dengan serombongan kafilah danmereka menawarkan kepada Rabi’ah untuk membawakan barang-barangmiliknya. Namun, tawaran itu ditolaknya baik-baik dengan alasan takingin meminta bantuan kepada bukan selain Tuhannya. Ia hanya percayapada bantuan Allah dan tidak percaya pada makhluk ciptaan-Nya.

                Orang-orang itu pun memahami keinginan Rabi’ah, sehingga merekameneruskan perjalanannya. Rabi’ah terdiam dan kemudian menundukkankepalanya sambil berdoa, “Ya Allah, apalagi yang akan Engkau lakukandengan seorang perempuan asing dan lemah ini? Engkau-lah yangmemanggilku ke rumah-Mu (Ka’bah), tetapi di tengah jalan Engkaumengambil keledaiku dan membiarkan aku seorang diri di tengah padangpasir ini.”

               Setelah asyik bermunajat, di depan Rabi’ah tampak keledai yangsemula mati itu pun hidup kembali. Rabi’ah tentu saja gembira karenabisa meneruskan perjalannya ke Mekkah.

Dalam cerita yang berbeda disebutkan, saat Rabi’ah berada ditengah padang pasir, ia berdoa, “Ya Allah, ya Tuhanku. Hatiku inimerasa bingung sekali, ke mana aku harus pergi? Aku hanyalah debu diatas bumi ini dan rumah itu (Ka’bah) hanyalah sebuah batu bagiku.Tampakkanlah wajah-Mu di tempat yang mulia ini.” Bgeitu ia berdoasehingga muncul suara Allah dan langsung masuk ke dalam hatinya tanpaada jarak, “Wahai Rabi’ah, ketika Musa ingin sekali melihat wajah-Ku,Aku hancurkan Gunung Sinai dan terpecah menjadi empat puluh potong.Tetaplah berada di situ dengan Nama-Ku.”

                Diceritakan pula, saat Rabi’ah dalam perjalanannya ke Mekkah,tiba-tiba di tengah ia melihat Ka’bah datang menghampiri dirinya.Rabi’ah lalu berkata, “Tuhanlah yang aku rindukan, apakah artinya rumahini bagiku? Aku ingin sekali bertemu dengan-Nya yang mengatakan,’Barangsiapa yang mendekati Aku dengan jarak sehasta, maka Aku akanberada sedekat urat nadinya.’ Ka’bah yang aku lihat ini tidak memilikikekuatan apa pun terhadap diriku, kegembiraan apa yang aku dapatkanapabila Ka’bah yang indah ini dihadapkan pada diriku?” Singkat cerita,sekembalinya Rabi’ah dari menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia kemudianmenetap di Basrah dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadahkepada Allah seraya melakukan perbuatan-perbuatan mulia.

           Sebagaimana yang banyak ditulis dalam biografi Rabi’ahal-Adawiyah, wanita suci ini sama sekali tidak memikirkan dirinya untukmenikah. Sebab, menurut Rabi’ah, jalan tidak menikah merupakan tindakanyang tepat untuk melakukan pencarian Tuhan tanpa harus dibebani olehurusan-urusan keduniawian. Padahal, tidak sedikit laki-laki yangberupaya untuk mendekati Rabi’ah dan bahkan meminangnya. Di antaranyaadalah Abdul Wahid bin Zayd, seorang sufi yang zuhud dan wara. Ia jugaseorang teolog dan termasuk salah seorang ulama terkemuka di kotaBasrah.

               Suatu ketika, Abdul Wahid bin Zayd sempat mencoba meminangRabi’ah. Tapi lamaran itu ditolaknya dengan mengatakan, “Wahailaki-laki sensual, carilah perempuan sensual lain yang sama denganmereka. Apakah engkau melihat adanya satu tanda sensual dalam diriku?”

               Laki-laki lain yang pernah mengajukan lamaran kepada Rabi’ahadalah Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorang Amir Abbasiyah dariBasrah (w. 172 H). Untuk berusaha mendapatkan Rabi’ah sebagai istrinya,laki-laki itu sanggup memberikan mahar perkawinan sebesar 100 ribudinar dan juga memberitahukan kepada Rabi’ah bahwa ia masih memilikipendapatan sebanyak 10 ribu dinar tiap bulan. Tetapi dijawab olehRabi’ah, “Aku sungguh tidak merasa senang bahwa engkau akan menjadibudakku dan semua milikmu akan engkau berikan kepadaku, atau engkauakan menarikku dari Allah meskipun hanya untuk beberapa saat.”

              Dalam kisah lain disebutkan, ada laki-laki sahabat Rabi’ahbernama Hasan al-Bashri yang juga berniat sama untuk menikahi Rabi’ah.Bahkan para sahabat sufi lain di kota itu mendesak Rabi’ah untukmenikah dengan sesama sufi pula. Karena desakan itu, Rabi’ah lalumengatakan, “Baiklah, aku akan menikah dengan seseorang yang palingpintar di antara kalian.” Mereka mengatakan Hasan al-Bashri lahorangnya.” Rabi’ah kemudian mengatakan kepada Hasan al-Bashri, “Jikaengkau dapat menjawab empat pertanyaanku, aku pun akan bersedia menjadiistrimu.” Hasan al-Bashri berkata, “Bertanyalah, dan jika Allahmengizinkanku, aku akan menjawab pertanyaanmu.”

             “Pertanyaan pertama,” kata Rabi’ah, “Apakah yang akan dikatakanoleh Hakim dunia ini saat kematianku nanti, akankah aku mati dalamIslam atau murtad?” Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahuiyang dapat menjawab.”

              “Pertanyaan kedua, pada waktu aku dalam kubur nanti, di saatMalaikat Munkar dan Nakir menanyaiku, dapatkah aku menjawabnya?” Hasanmenjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.”

              “Pertanyaan ketiga, pada saat manusia dikumpulkan di PadangMahsyar di Hari Perhitungan (Yaumul Hisab) semua nanti akan menerimabuku catatan amal di tangan kanan dan di tangan kiri. Bagaimanadenganku, akankah aku menerima di tangan kanan atau di tangan kiri?”Hasan kembali menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Tahu.”

                “Pertanyaan terakhir, pada saat Hari Perhitungan nanti,sebagian manusia akan masuk surga dan sebagian lain masuk neraka. Dikelompok manakah aku akan berada?” Hasan lagi-lagi menjawab sepertijawaban semula bahwa hanya Allah saja Yang Maha Mengetahui semuarahasia yang tersembunyi itu.

                 Selanjutnya, Rabi’ah mengatakan kepada Hasan al-Bashri, “Akutelah mengajukan empat pertanyaan tentang diriku, bagaiman aku harusbersuami yang kepadanya aku menghabiskan waktuku dengannya?” Dalampenolakannya itu pula, Rabi’ah lalu menyenandungkan sebuah sya’ir yangcukup indah.

             Damaiku, wahai saudara-saudaraku,Dalam kesendirianku,Dan kekasihku bila selamanya bersamaku,Karena cintanya itu,Tak ada duanya,Dan cintanya itu mengujiku,Di antara keindahan yang fana ini,Pada saat aku merenungi Keindahan-Nya,Dia-lah “mirabku”, Dia-lah “kiblatku”,Jika aku mati karena cintaku,Sebelum aku mendapatkan kepuasaanku,Amboi, alangkah hinanya hidupku di dunia ini,Oh, pelipur jiwa yang terbakar gairah,Juangku bila menyatu dengan-Mu telah melipur jiwaku,Wahai Kebahagiaanku dan Hidupku selamanya,Engkau-lah sumber hidupku,Dan dari-Mu jua datang kebahagiaanku,Telah kutanggalkan semua keindahan fana ini dariku,Harapku dapat menyatu dengan-Mu,Karena itulah hidup kutuju.

               Begitulah, meskipun sebagai manusia, Rabi’ah tak pernah tergodasedikit pun oleh berbagai keindahan dunia fana. Sampai wafatnya, iahanya lebih memilih Allah sebagai Kekasih sejatinya semata ketimbangharus bercinta dengan sesama manusia. Meskipun demikian, disebutkanbahwa Rabi’ah memiliki sejumlah sahabat pria, dan sangat sedikit sekaliia bersahabat dengan kaum perempuan. Di antara sahabat-sahabat Rabi’ahyang cukup dekat misalnya Dzun Nun al-Mishri, seorang sufi Mesir yangmemperkenalkan ajaran doktrin ma’rifat. Sufi ini meninggal pada tahun856 M dan sempat bersahabat dengan Rabi’ah selama kurang lebih setengahabad. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa pertemuan antara Dzun Nunal-Mishri dengan Rabi’ah ini terjadi sejak awal-awal usianya.

                 Di kalangan para sahabat sufi-nya itu, Rabi’ah banyak sekaliberdiskusi dan berbincang tentang Kebenaran, baik siang maupun malam.Salah seorang sahabat Rabi’ah, Hasan al-Bashri, misalnya menceritakan:”Aku lewati malam dan siang hari bersama-sama dengan Rabi’ah,berdiskusi tentang Jalan dan Kebenaran, dan tak pernah terlintas dalambenakku bahwa aku adalah seorang laki-laki dan begitu juga Rabi’ah, takpernah ada dalam pikirannya bahwa ia seorang perempuan, dan akhirnyaaku menengok dalam diriku sendiri, baru kusadari bahwa diriku takmemiliki apa-apa, yaitu secara spiritual aku tidak berharga,Rabi’ah-lah yang sesungguhnya sejati.

                  Dalam kisah lain, diceritakan bahwa pada suatu hari Rabi’ahmelewati lorong rumah Hasan al-Bashri. Hasan melihatnya melalui jendeladan menangis, hingga air matanya jatuh menetes mengenai jubah Rabi’ah.Ia menengadah ke atas, dan berpikir bahwa hari tidaklah hujan, danketika ia menyadari bahwa itu air mata sahabatnya, lalu dihampirinyasahabat yang sedang menangis tersebut seraya berkata, “Wahai guruku,air itu hanyalah air mata kesombongan diri saja dan bukan akibat darimelihat ke dalam hatimu, di mana dalam hatimu air itu akan membentuksungai yang di dalamnya tidak akan engkau dapati lagi hatimu, kecualiia telah bersama dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.” Setelah mendengarkata-kata Rabi’ah itu, Hasan tampak hanya bisa berdiam diri.

                  Di kalangan para sahabatnya, kehidupan Rabi’ah dirasakan banyakmemberi manfaat. Hal ini dikarenakan Rabi’ah banyak sekalimemperhatikan kehidupan mereka. Perhatian Rabi’ah yang cukup besarkepada para sahabatnya itu, misalnya saja dibuktikan dengan kisahsebagai berikut: Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang meminta agarRabi’ah mendoakan untuk dirinya. Tapi permohonan itu dibalas olehRabi’ah dengan rasa rendah hati, “Wahai, siapakah diriku ini? Turutlahperintah Allah dan berdoalah kepada-Nya, sebab Dia akan menjawab semuadoa bila engkau memohonnya.”

             Ke-zuhud-an Rabi’ah al-Adawiyah

               Sebagaimana diungkapkan terdahulu, Rabi’ah sejak kecil sudahmemiliki karakter yang tidak begitu banyak memperhatikan kehidupanduniawi. Hidupnya sederhana dan sangat besar hati-hatinya terhadapmakanan apapun yang masuk ke dalam perutnya. Bahkan saking zuhudnya,Rabi’ah sering menolak setiap bantuan yang datang dari para sahabatnya,tetapi sebaliknya Rabi’ah malah menyibukkan diri untuk melayaniTuhannya. Selepas dirinya dari perbudakan, Rabi’ah memilih hidupmenyendiri di sebuah gubuk sederhana di kota Basrah tempatkelahirannya. Ia meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup hanya untukberibadah kepada Allah.

               Tampaknya, keinginan untuk hidup zuhud dari kehidupan duniawiini benar-benar ia jalankan secara konsisten. Pernah misalnya Al-Jahiz,seorang sufi generasi tua, menceritakan bahwa beberapa dari sahabatnyamengatakan kepada Rabi’ah, “Andaikan kita mengatakan kepada salahseorang keluargamu, pasti mereka akan memberimu seorang budak, yangakan melayani kebutuhanmu di rumah ini.” Tetapi ia menjawab, “Sungguh,aku sangat malu meminta kebutuhan duniawi kepada Pemilik dunia ini,bagaimana aku harus meminta kepada yang bukan memiliki dunia ini?”Tiba-tiba terdengar suara mengatakan:

                “Jika engkau menginginkan dunia ini, maka akan Aku berikansemua dan Aku berkahi, tetapi Aku akan menyingkir dari dalam kalbumu,sebab Aku tak mungkin berada di dalam kalbu yang memiliki dunia ini.Wahai Rabi’ah, Aku mempunyai Kehendak dan begitu juga denganmu. Akutidak mungkin menggabungkan dua kehendak itu di dalam satu kalbu.”

                  Rabi’ah kemudian mengatakan, “Ketika mendengar peringatan itu,kutanggalkan hati ini dari dunia dan kuputuskan harapan duniawikuselama tiga puluh tahun. Aku salat seakan-akan ini terkahir kalinya,dan pada siang hari aku mengurung diri menjauhi makhluk lainnya, akutakut mereka akan menarikku dari diri-Nya, maka akau katakana, “YaTuhan, sibukkanlah hati ini dengan hanya menyebut-Mu, jangan Engkaubiarkan mereka menarikku dari-Mu.”

                     Sebagai seorang zahid, Rabi’ah senantiasa bermunajat kepadaAllah agar dihindarkan dari ketergantungannya kepada manusia. Namun,perjalanan zuhud yang dialami Rabi’ah tampaknya tidak mudah begitu sajadilalui. Di depan, banyak tantangan dan cobaan yang harus ia hadapi.Kenyataan-kenyataan itu memang wajar, karena sebagai manusia, takmungkin dirinya hanya bergantung kepada Allah semata. Meskipundemikian, Rabi’ah tetap berusaha untuk menghindari apapun bantuan yangdatang selain dari Allah, sehingga sekalipun ia hidup dalam kemiskinan(faqr), namun kemiskinannya dianggap sebagai bagian dari kasih sayangAllah kepada Rabi’ah.

                   Dalam satu kisah misalnya disebutkan, sahabatnya Malik binDinar pada suatu waktu mendapati Rabi’ah sedang terbaring sakit di atastikar tua dan lusuh, serta batu bata sebagai bantal di kepalanya.Melihat pemandangan seperti itu, Malik lalu berkata pada Rabi’ah, “Akumemiliki teman-teman yang kaya dan jika engkau membutuhkan bantuan akuakan meminta kepada mereka.” Rabi’ah mengatakan, “Wahai Malik, engkausalah besar. Bukankah Yang memberi mereka dan aku makan sama?” Malikmenjawab, “Ya, memang sama.” Rabi’ah mengatakan, “Apakah Allah akanlupa kepada hamba-Nya yang miskin dikarenakan kemiskinannya dan akankahDia ingat kepada hamba-Nya yang kaya dikarenakan kekayaannya?” Malikmenyahut, “Tidak.” Rabi’ah lalu kembali mengatakan, “Karena Diamengetahui keadaanku, mengapa aku harus mengingatkan-Nya? Apa yangdiinginkan-Nya, kita harus menerimanya.”

                   Sikap zuhud yang ditampilkan Rabi’ah sesungguhnya tiada lainagar ia hanya lebih mencintai Allah ketimbang makhluk-makhluknya.Karena itu, hidup dalam kefakiran baginya bukanlah halangan untukberibadah dan lebih dekat dengan Tuhannya. Dan, toh, Rabi’ah menganggapbahwa kefakiran adalah suatu takdir, yang karenanya ia harus terimadengan penuh keikhlasan. Kebahagiaan dan penderitaan, demikian menurutRabi’ah, adalah datang dari Allah. Dan dalam perjalanannya sufistiknyaitu, Rabi’ah sendiri telah melaksanakan pesan Rasulullah: “Zuhudlahengkau pada dunia, pasti Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yangada pada manusia, pasti manusia akan mencintaimu.”

                 Cinta Ilahi Rabi’ah al-Adawiyah

               Cinta Ilahi (al-Hubb al-Ilah) dalam pandangan kaum sufi memilikinilai tertinggi. Bahkan kedudukan mahabbah dalam sebuah maqamat sufitak ubahnya dengan maqam ma’rifat, atau antara mahabbah dan ma’rifatmerupakan kembar dua yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan. AbuNashr as-Sarraj ath-Thusi mengatakan, cinta para sufi dan ma’rifat itutimbul dari pandangan dan pengetahuan mereka tentang cinta abadi dantanpa pamrih kepada Allah. Cinta itu timbul tanpa ada maksud dan tujuanapa pun.

                      Apa yang diajarkan Rabi’ah melalui mahabbah-nya, sebenarnya takberbeda jauh dengan yang diajarkan Hasan al-Bashri dengan konsep khauf(takut) dan raja’ (harapan). Hanya saja, jika Hasan al-Bahsri mengabdikepada Allah didasarkan atas ketakutan masuk neraka dan harapan untukmasuk surga, maka mahabbah Rabi’ah justru sebaliknya. Ia mengabdikepada Allah bukan lantaran takut neraka maupun mengharapkan balasansurga, namun ia mencinta Allah lebih karena Allah semata. Sikap cintakepada dan karena Allah semata ini misalnya tergambar dalam sya’irRabi’ah sebagai berikut:

                  Ya Allah, jika aku menyembah-Mu,karena takut pada neraka,maka bakarlah aku di dalam neraka.Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga,campakkanlah aku dari dalam surga.Tetapi jika aku menyembah-Mu, demi Engkau,janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu,yang Abadi kepadaku.

                  Cinta Rabi’ah kepada Allah sebegitu kuat membelenggu hatinya,sehingga hatinya pun tak mampu untuk berpaling kepada selain Allah.Pernah suatu ketika Rabi’ah ditanya, “Apakah Rabi’ah tidak mencintaiRasul?” Ia menjawab, “Ya, aku sangat mencintainya, tetapi cintakukepada Pencipta membuat aku berpaling dari mencintai makhluknya.”Rabi’ahjuga ditanya tentang eksistensi syetan dan apakah ia membencinya? Iamenjawab, “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosongsedikit pun dalam diriku untuk rasa membenci syetan.”

               Allah adalah teman sekaligus Kekasih dirinya, sehingga ke manasaja Rabi’ah pergi, hanya Allah saja yang ada dalam hatinya. Iamencintai Allah dengan sesungguh hati dan keimanan. Karena itu, iasering jadikan Kekasihnya itu sebagai teman bercakap dalam hidup. Dalamsalah satu sya’ir berikut jelas tergambar bagaimana Cinta Rbi’ah kepadaTeman dan Kekasihnya itu:

                   Kujadikan Engkau teman bercakap dalam hatiku,Tubuh kasarku biar bercakap dengan yang duduk.Jisimku biar bercengkerama dengan Tuhanku,Isi hatiku hanya tetap Engkau sendiri.

                Menurut kaum sufi, proses perjalanan ruhani Rabi’ah telah sampaikepada maqam mahabbah dan ma’rifat. Namun begitu, sebelum sampai ketahapan maqam tersebut, Rabi’ah terlebih dahulu melampauitahapan-tahapan lain, antara lain tobat, sabar dan syukur.Tahapan-tahapan ini ia lampaui seiring dengan perwujudan Cintanyakepada Tuhan. Tapi pada tahap tertentu, Cinta Rabi’ah kepada Tuhannyaseakan masih belum terpuaskan, meski hijab penyaksian telah disibakkan.Oleh karena itu, Rabi’ah tak henti-hentinya memohon kepada Kekasihnyaitu agar ia bisa terus mencintai-Nya dan Dia pun Cinta kepadanya. Halini sesuai dengan firman Allah: “Dia mencintai mereka dan merekamencintai-Nya” (QS. 5: 59).

                 Dalam kegamangannya itu, Rabi’ah tak putus-putusnya berdoa danbermunajat kepada Allah. Bahkan dalam doanya itu ia berharap agar tetapmencintai Allah hingga Allah memenuhi ruang hatinya. Doanya:

                Tuhanku, malam telah berlalu dansiang segera menampakkan diri.Aku gelisah apakah amalanku Engkau terima,hingga aku merasa bahagia,Ataukah Engkau tolak hingga sehingga aku merasa bersedih,Demi ke-Maha Kuasaan-Mu, inilah yang akan kulakukan.Selama Engkau beri aku hayat,sekiranya Engkau usir dari depan pintu-Mu,aku tidak akan pergi karena cintaku pada-Mu,telah memenuhi hatiku.

                Cinta bagi Rabi’ah telah mempesonakan dirinya hingga ia telahmelupakan segalanya selain Allah. Tapi bagi Rabi’ah, Cinta tentu sajabukan tujuan, tetapi lebih dari itu Cinta adalah jalan keabadian untukmenuju Tuhan sehingga Dia ridla kepada hamba yang mencintai-Nya. Dandengan jalan Cinta itu pula Rabi’ah berupaya agar Tuhan ridla kepadanyadan kepada amalan-amalan baiknya. Harapan yang lebih jauh dari Cintanyakepada Tuhan tak lain agar Tuhan lebih dekat dengan dirinya, dankemudian Tuhan sanggup membukakan hijab kebaikan-Nya di dunia dan jugadi akhirat kelak. Ia mengatakan, dengan jalan Cinta itu dirinyaberharap Tuhan memperlihatkan wajah yang selalu dirindukannya. Dalamsya’irnya Rabi’ah mengatakan:

                    Aku mencintai-Mu dengan dua macam Cinta,Cinta rindu dan Cinta karena Engkau layak dicinta,Dengan Cinta rindu,kusibukan diriku dengan mengingat-ingat-Mu selalu,Dan bukan selain-Mu.Sedangkan Cinta karena Engkau layak dicinta,di sanalah Kau menyingkap hijab-Mu,agar aku dapat memandangmu.Namun, tak ada pujian dalam ini atau itu,segala pujian hanya untuk-Mu dalam ini atau itu.

             Abu Thalib al-Makki dalam mengomentari sya’ir di atasmengatakan, dalam Cinta rindu itu, Rabi’ah telah melihat Allah danmencintai-Nya dengan merenungi esensi kepastian, dan tidak melaluicerita orang lain. Ia telah mendapat kepastian (jaminan) berupa rahmatdan kebaikan Allah kepadanya. Cintanya telah menyatu melalui hubunganpribadi, dan ia telah berada dekat sekali dengan-Nya dan terbangmeninggalkan dunia ini serta menyibukkan dirinya hanya dengan-Nya,menanggalkan duniawi kecuali hanya kepada-Nya. Sebelumnya ia masihmemiliki nafsu keduniawian, tetapi setelah menatap Allah, ia tanggalkannafsu-nafsu tersebut dan Dia menjadi keseluruhan di dalam hatinya danDia satu-satunya yang ia cintai. Allah telah memebaskan hatinya darikeinginan duniawi, kecuali hanya diri-Nya, dan dengan ini meskipun iamasih belum pantas memiliki Cinta itu dan masih belum sesuai untukdianggap menatap Allah pada akhirnya, hijab tersingkap sudah dan iaberada di tempat yang mulia. Cintanya kepada Allah tidak memerlukanbalasan dari-Nya, meskipun ia merasa harus mencintai-Nya.

                 Al-Makki melanjutkan, bagi Allah, sudah selayaknya Diamenampakkan rahmat-Nya di muka bumi ini karena doa-doa Rabi’ah (yaitupada saat ia melintasi Jalan itu) dan rahmat Allah itu akan tampak jugadi akhirat nanti (yaitu pada saat Tujuan akhir itu telah dicapainya dania akan melihat wajah Allah tanpa ada hijab, berhadap-hadapan). Tak adalagi pujian yang layak bagi-Nya di sini atau di sana nanti, sebab Allahsendiri yang telah membawanya di antara dua tingkatan itu (dunia danakhirat) (Abu Thalib al-Makki, Qut al-Qulub, 1310 H, dalam MargaretSmith, 1928).

                 Rabi’ah dan menjelang hari kematiannya

Dikisahkan, Rabi’ah telah menjalani masa hidup selama kuranglebih 90 tahun. Dan selama itu, ia hanya mengabdi kepada Allah sebagaiPencipta dirinya, hingga Malaikat Izrail menjemputnya. Tentu saja,Rabi’ah telah menjalani pula masa-masa di mana Allah selalu beradadekat dengannya. Para ulama yang mengenal dekat dengan Rabi’ahmengatakan, kehadiran Rabi’ah di dunia hingga kembalinya ke alamakhirat, tak pernah terbersit sedikit pun adanya keinginan lain kecualihanya ta’zhim (mengagungkan) kepada Allah. Ia juga bahkan sedikitsekali meminta kepada makhluk ciptaan-Nya.

                    Berbagai kisah menjelang kematian Rabi’ah menyebutkan, diantaranya pada masa menjelang kematian Rabi’ah, banyak sekali orangalim duduk mengelilinginya. Rabi’ah lalu meminta kepada mereka:’Bangkit dan keluarlah! Berikan jalan kepada pesuruh-pesuruh Allah YangMaha Agung!’ Maka semua orang pun bangkit dan keluar, dan pada saatmereka menutup pintu, mereka mendengar suara Rabi’ah mengucapkankalimat syahadat, setelah itu terdengar sebuah suara: “Wahai jiwa yangtenang, kembalilah kepada Tuhanmu, berpuas-puaslah dengan-Nya. Makamasuklah bersama golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalamsurga-Ku.” (QS. 89: 27-30).

                      Setelah itu tidak terdengar lagi suara apa pun. Pada saatmereka kembali masuk ke kamar Rabi’ah, tampak perempuan tua renta itutelah meninggalkan alam fana. Para dokter yang berdiri di hadapannyalalu menyuruh agar jasad Rabi’ah segera dimandikan, dikafani,disalatkan, dan kemudian dibaringkan di tempat yang abadi.

                      Kematian Rabi’ah telah membuat semua orang yang mengenalnyahampir tak percaya, bahwa perempuan suci itu akan segera meninggalkanalam fana dan menjumpai Tuhan yang sangat dicintainya. Orang-orangkehilangan Rabi’ah, karena dialah perempuan yang selama hidupnya penuhpenderitaan, namun tak pernah bergantung kepada manusia. Setiap orangsudah pasti akan mengenang Rabi’ah, sebagai sufi yang telah berjumpadengan Tuhannya.

                     Karenanya, setelah kematian Rabi’ah, seseorang lalu pernahmemimpikanya. Dia mengatakan kepada Rabi’ah, “Ceritakanlah bagaimanakeadaanmu di sana dan bagaimana engkau dapat lolos dari Munkar danNakir?” Rabi’ah menjawab, “Mereka datang menghampiriku dan bertanya,”Siapakah Tuhanmu?’ Aku katakana, “Kembalilah dan katakan kepadaTuhanmu, ribuan dan ribuan sudah ciptaan-Mu, Engkau tentunya tidak akanlupa pada perempuan tua lemah ini. Aku, yang hanya memiliki-Mu didunia, tidak pernah melupakan-Mu. Sekarang, mengapa Engkau harusbertanya, ‘Siapa Tuhanmu?'”

                    Kini Rabi’ah telah tiada. Perempuan kekasih Ilahi itu meninggaluntuk selamanya, dan akan kembali hidup bersama Sang Kekasih disisi-Nya. Jasad kasarnya hilang ditelan bumi, tetapi ruh sucinyaterbang bersama para sufi, para wali, dan para pecinta Ilahi.